Minggu, 01 April 2012

Tentang Syahdiardin

Drs. H. Syahdiardin, M.Pd, lahir di Lubuk Nagodang Kab. Kerinci Prov. Jambi pada Tanggal 19 Juni 1961 dari pasangan H. Basyaruddin dan Hj. Hamidah. Anak tertua dari 7 bersaudara ini memiliki adik-adik: Jama'an Saleh, Basniar, Kahar Muhiddin, Amri Hamidi, Marsusmi, dan Mohd. Fajri.  
Pendidikan dasar dan menengah diawali di SD Negeri Lubuk Nagodang tamat Tahun 1974. Kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Sungai Penuh tamat Tahun 1977, masuk SMA Negeri 1 Sungai Penuh Tahun 1978 dan tamat SMA Taman Siswa Padang pada Tahun 1982. Pendidikan tinggi dijalani di IKIP Padang (sekarang UNP) pada Jurusan Pendidikan Akuntansi tamat S-1 Tahun 1986 dan S-2 Magister Teknologi Pendidikan Universitas Jambi tamat Tahun 2009.
Karir sebagai guru diawali di SMEA Negeri Pariaman (1986-1993). Tahun 1994 mutasi ke SMEA Negeri Sungai Penuh (Kerinci), kemudian pada April 1996 diangkat menjadi Kepala SMEA/SMK Negeri 1 Muara Bulian (Kab. Batang Hari) yang dilakoni sampai awal Tahun 2007. Pada Tahun 2007 dipromosikan menjadi Pengawas Sekolah (SMK) di Dinas PDK Kab. Batang Hari Prov. Jambi dan di akhir Tahun 2010 terpilih menjadi Koordinator Pengawas Sekolah (Korwas) Kab. Batang Hari. Sesuai kebijakan Pemerintah, TMT 1 Januari 2017 beralih status sebagai Pengawas SMK pada Dinas Pendidikan Provinsi Jambi.   
Sejak menjadi Pengawas Sekolah aktif menjadi fasilitator KTSP dan Manajemen SMK bagi guru dan Kepala SMK yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Ia merupakan asesor pertama pada penerapan 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP) SMK dan menjadi fasilitator/instruktur diklat asesor SMK 8 SNP pada BAP S/M Prov. Jambi. Selain itu juga sering menjadi pembicara dan nara sumber pada  kegiatan diskusi dan seminar tingkat nasional dan daerah.
Di persyarikatan Muhammadiyah pernah menjadi Ketua dan Penasehat Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kab. Batang Hari dan aktif sebagai Anggota Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Prov. Jambi. Di Majelis Ulama Indonesia (MUI) pernah menjadi Ketua Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI dan Penasehat MUI Kab. Batang Hari. Disamping itu aktif di Bidang Pendidikan (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kab. Batang Hari dan Ketua Bidang Pengembangan Profesi dan Diklat Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia (APSI) Prov. Jambi.     

Rencana Kerja SMK


RENCANA KERJA
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN

Oleh: Syahdiardin

(Disampaikan pada Pelatihan Bimbingan Teknis Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Sekolah bagi Kepala SMK se Provinsi Jambi yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jambi dari tgl 14 s.d 16 Februari 2010 di Hotel Ratu Jambi)
                                                         

I.    PENDAHULUAN
Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, sekarang Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (Direktorat PSMK), meluncurkan kebijakan PSS (Pengembangan Seko-lah Seutuhnya) pada tahun 1990-an. Tujuan utama kebijakan ini adalah membentuk keman-dirian Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam meningkatkan mutunya melalui pemanfa-atan sumber daya internal dan eksternal sekolah secara optimal.
PSS berkembang menjadi kebijakan pengembangan semua jenis dan jenjang pendi-dikan  dasar dan menengah yang dikenal dengan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).  Un-dang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan MBS atau School Based Managemant sebagai prinsip utama pengelolaan semua satuan pendidik-an. Ketentuan ini dipertegas dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 ten-tang Standar Nasional Pendidikan (SNP). Dalam Pasal 49 ayat (1) pada PP ini dinyatakan, bahwa pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah mene-rapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, par-tisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas (Depdiknas, 2007).
MBS merupakan sistem manajemen sekolah yang diselenggarakan berdasarkan situa-si dan kondisi sekolah bersangkutan (Hasbullah, 2007). Oleh sebab itu setiap sekolah harus mengembangkan sendiri sistem manajemennya berdasarkan situasi dan kondisi sekolah, se-perti guru dan tenaga kependidikan lainnya, peserta didik, sarana prasarana, serta lingkungan internal dan eksternal sekolah lainnya.
Salah satu fungsi manajemen yang harus dilakukan sekolah adalah perencanaan, yang merupakan kegiatan pertama dalam administrasi (Wijaya, 1995). Perencanaan yang me-rupakan suatu proses yang dilakukan sekolah sebagai perencana menghasilkan produk yang disebut rencana. Rencana diperlukan sebagai dasar yang kuat untuk meningkatkan mutu pen-didikan (Sukmadinata dkk, 2006).
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 19 Tahun 2007 ten-tang Standar Pengelolaan Pendidikan menetapkan, bahwa setiap satuan pendidikan  dasar dan menengah harus memiliki rencana kerja sekolah/madrasah. Rencana kerja sekolah/mad-rasah disusun dalam bentuk Rencana Kerja Jangka Menengah dan Rencana Kerja Tahunan.
Dari tahun 2007 sampai 2009 penulis mengikuti beberapa kegiatan yang diseleng-garakan Dinas Pendidikan Provinsi Jambi dan Badan Akreditasi Provinsi (BAP-S/M) Provin-si Jambi. Beberapa catatan hasil pengamatan penulis, baik dalam kapasitas sebagai assesor akreditasi SMK, maupun sebagai fasilitator pelatihan manajemen kepala SMK dan KTSP SMK menunjukkan:
1.       Masih banyak SMK yang belum memiliki rencana kerja jangka menengah, karena tidak memahami bagaimana membuatnya.
2.       Masih ditemui SMK yang tidak memiliki rencana kerja tahunan.
3.       Rencana kerja jangka menengah yang dibuat SMK diantaranya belum menggambarkan secara lengkap dan terukur tujuan yang akan dicapai berkaitan dengan mutu lulusan dan perbaikan komponen yang mendukung peningkatan mutu lulusan tersebut.
4.       Rencana kerja tahunan dibuat tidak berdasarkan atau tidak dijabarkan dari rencana kerja jangka menengah.
5.       Rencana kerja jangka menengah dan atau rencana kerja tahunan yang dibuat SMK beru-pa model dari sekolah lain sehingga tidak sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah yang sebenarnya.
 Mengacu pada uraian permasalahan di atas, maka diperlukan upaya pencerahan agar para pengelola SMK di tingkat satuan pendidikan mendapat pemahaman dan keterampilan praktis penyusunan rencana kerja jangka menengah dan rencana kerja tahunan untuk seko-lahnya masing-masing. Pembahasan berikut ini lebih berorientasi pada tuntunan praktis ba-gaimana menyusun  rencana kerja jangka menengah dan rencana kerja tahunan pada tingkat satuan pendidikan.
II.  MANFAAT RENCANA KERJA
Rencana menurut Sudirman (1999) dijadikan dasar pengendalian. Tanpa ada rencana tidak mungkin pengendalian dapat dilakukan. Dengan adanya rencana, maka kegiatan-ke-giatan diarahkan, dikontrol, dan diawasi agar berjalan sesuai dengan apa yang sudah ditetap-kan atau ketentuan dalam rencana.  Rencana menjadi kemudi untuk mengarahkan, mengon-trol, dan mengawasi arah kegiatan.

Bentuk BU dan Manfaat UP SMK

Unit Produksi: Bentuk Badan Usaha dan Manfaatnya
Bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
Oleh: Syahdiardin
(Disampaikan pada Seminar Peningakatan Kinerja Unit Produksi dan Kompetensi Guru SMK Kab Batanghari pada Tanggal 19 April 2008 di Aula SMK Negeri 1 Batang Hari)

A. PENDAHULUAN
                  Dunia pendidikan di negeri ini, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai penyelengggaran Pendidikan Menengah Kejuruan semakin sarat beban. Dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 pasal 26 (3) disebutkan:
      Tujuan Pendidikan Menengah Kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlaq mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
                  Di satu sisi SMK menjunjung beban berat, menyiapkan anak bangsa menjadi manusia yang berakal budi. SMK dibebani tugas yang menjadi bagian strategi kebudayaan dalam peradaban manusia. Di sisi lain SMK makin lebih diarahkan ke fungsi-fungsi praktis-pragmatis, sebagai bagian dari strategi ekonomi. SMK mengusung beban berat, menghasilkan tenaga kerja terampil, tenaga kerja professional. Bak dua sisi mata uang kedua beban itu harus diusung bersamaan menghasilkan tenaga kerja terampil yang berakal budi, sehingga misi stragtegi ekonomi dan strategi kebudayaan dapat seiring sejalan.
                  Era tahun sembilan puluhan merupakan awal reformasi dan reposisi SMK. Konsep link and match dugulirkan Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan (sekarang Direktorat Pembinaan SMK), dan gaungnya begitu cepat sampai ke SMK seantero nusantara tercinta. Sebuah konsep luhur yang menghendaki adanya kesepadanan dan ketersambungan antara pelaksanaan pembelajaran di SMK dan pekerjaan di dunia industri atau dunia kerja.
                  Konsep link and match menuntut SMK secara terus menerus harus mengikuti  perkembangan dunia industri. Kerjasama harus dijalin dan dijaga, mulai rekrutmen, proses pembelajaran, sampai menjadikan siswa sebagai tenaga kerja di dunia industri atau bekerja secara mandiri.
                  Sejalan dengan kebijakan link and match Direktorat Pendidikan Menengah
      Kejuruan menggulirkan kebijakan Unit Produksi. Setiap SMK diharuskan memiliki sebuah unit usaha yang dipopulerkan dengan nama Unit Produksi. Bigitu pentingnya, maka Unit Produksi menjadi salah satu dari sembilan komponen penilaian kinerja SMK.
                  Setelah era otonomi daerah gaung Unit Produksi sudah tidak senyaring sebelum era otonomi daerah. Perlu upaya sungguh-sungguh dari semua pihak yang berkaitan dengan pengelolaan SMK untuk membangkitkan kembali batang terendam Unit Produksi di SMK. Mengawali upaya luhur dan suci itu kita bahas kembali dengan menjawab tiga pertanyaan berikut:
1.      Apakah Unit Produksi?
2.      Apa bentuk badan usaha Unit Produksi?
3.      Apa manfaat Unit Produksi?

B. APAKAH UNIT PRODUKSI?
            Dalam Perangkat Monitoring dan Evaluasi Pendidikan Menengah Kejuruan yang diterbitkan Direktorat Pendidikan menengah Kejuruan Tahun 1999, pada indikator keberhasilan SMK, sub indikator Unit Produksi terdapat kalimat pengantar sebagai berikut:

Selasa, 31 Januari 2012

Keterampilan Bertanya dan Penguatan

ABSTRAK

 Syahdiardin, 2011. Meningkatkan Keterampilan Bertanya dan Memberi Penguatan Bagi Guru SMK Negeri di Kabupaten Batang Hari Melalui Supervisi Pertemuan Orientasi
Kata Kunci: Teknik Bertanya, Penguatan, Kemampuan GTT, Pertemuan Orientasi
Pembelajaran yang baik adalah yang berorientasi pada siswa dimana siswa aktif belajar dalam suasana yang menyenangkan. Untuk menciptakan pembelajaran aktif dan menyenangkan guru harus menguasai strategi dan teknik atau metode mengajar, diantaranya teknik bertanya dan meberi penguatan. GTT SMK negeri di Kabupaten Batang Hari seba-gian besar adalah tamatan perguruan tinggi non kependidikan atau non keguruan. Mereka kurang memahami teknik bertanya dan memberi penguatan yang merupakan kompetensi pedagogik yang harus mereka miliki sebagai seorang guru. Oleh sebab itu keterampilan bertanya dan memberi penguatan bagi GTT harus ditingkatkan. GTT harus mendapatkan orientasi teknik bertanya dan memberikan penguatan dari supervisor (pengawas) melalui teknik supervisi pertemuan orientasi.
Penelitian ini bertujuan meningkatkan kemampuan GTT dan memperoleh bukti empiris tentang peningkatan kemampuan GTT SMK Negeri di Kabupaten Batang Hari dalam menerapkan teknik bertanya dan memberi penguatan melalui teknik supervisi pertemuan orientasi. Penelitian tindakan ini dilakukan dalam dua siklus tindakan (setiap siklus sekali pertemuan), jarak antar siklus dua minggu, dan diikuti oleh enam orang GTT sebagai subjek penelitian. Setiap siklus dilaksanakan selama empat jam pembelajaran (satu jam pembelajaran @ 45 menitt).  Data kemampuan GTT menerapkan teknik bertanya dan memberi penguatan yang diperoleh dari pengamatan saat ia mengajar di kelas dikumpulkan, dinilai, dan dicatat secara terus menerus, ditabulasi secara marginal pada setiap siklus.

Menyusun Silabus Melalui Diskusi Kelompok


ABSTRAK

Syahdiardin, 2009. Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Menyusun Silabus Mata Pelajaran Akuntansi melalui Diskusi Kelompok pada SMK di Kabupaten Batang Hari
Kata Kunci: Kemampuan Guru, Silabus, Diskusi Kelompok
Penelitian tindakan kepengawasan ini berangkat dari latar belakang pemikiran, bahwa dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, maka setiap sekolah atau madrasah menyusun sendiri  kurikulumnya berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 22 tentang Standar Isi, Permendiknas nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, dan Permendiknas nomor 24 tahun 2006 tentang Pelaksasnaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan. Unsur utama penyusun kurikulum yang di dalamnya terdapat silabus adalah guru. Untuk itu kemampuan menyusun silbus bagi guru harus ditingkatkan agar tersusun dokumen kurikulum yang baik. Pengawas sebagai pembina guru berkewajiban membimbing guru dalam menyusun silabus.
Peneliti melalui kegiatan penelitian tindakan ini berupaya memperoleh bukti empiris seberapa banyak guru mata pelajaran akuntansi SMK di Kabupaten Batang Hari yang dapat meningkatkan  kemampuannya dalam menyusun silabus melalui diskusi kelompok. Penelitian dilakukan dalam dua siklus (tiap siklus sekali pertemuan), jarak antar siklus satu minggu, yang diikuti oleh tujuh orang guru sebagai subyek penelitian, di mana setiap siklus dilakukan selama enam jam pembelajran (satu jam pembelajaran adalah empat puluh lima menit).  Data kemampuan guru menyusun silabus dikumpulkan, dinilai, dan dicatat secara terus menerus, ditabulasi secara marginal pada setiap siklus.

Menyusun RPP Melalui Pemberian Tugas dan Balikan


ABSTRAK

Syahdiardin, 2010. Meningkatkan Kemampuan Guru Dalam Menyusun RPP Mata Pelajaran Produktif  Melalui Pemberian Tugas dan Balikan pada SMK Negeri di Kabupaten Batang Hari
Kata Kunci: Kemampuan Guru, RPP, Pemberian Tugas, Balikan
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007  tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah mengamanatkan agar setiap guru menyusun RPP secara lengkap dan sistematis untuk setiap kompetensi dasar (KD) yang dapat digunakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Penyusunan RPP sebagai bagian dari perencanaan pembelajaran dimaksudkan untuk menciptakan proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM). Oleh sebab itu kemampuan guru dalam menyusun RPP harus ditingkatkan. Upaya itu dapat dilakukan pengawas sebagai pembina guru melalui kegiatan pembinaan dengan teknik atau metode pemberian tugas dan balikan.
Penelitian ini bermaksud untuk memperoleh bukti empiris tentang peningkatan kemampuan menyusun RPP bagi guru mata pelajaran produktif pada SMK Negeri di Kabupaten Batang Hari melalui tindakan pemberian tugas dan balikan. Penelitian dilakukan dalam dua siklus, setiap siklus sekali pertemuan, jarak antar siklus dua minggu, yang diikuti oleh sepuluh orang guru sebagai subyek penelitian, di mana setiap siklus dilakukan selama enam jam pembelajaran (satu jam pembelajaran @ 45 menit).  Data kemampuan guru menyusun RPP dikumpulkan, dinilai, dan dicatat secara terus menerus, ditabulasi secara marginal pada setiap siklus.